2/25/2009

Integritas Pribadi

“Pada hari kiamat nanti seorang lelaki dilemparkan ke dalam neraka, lalu seluruh isi perutnya keluar, kemudian ia berputar membawa isi perutnya itu seperti seekor keledai memutari penggilingan. Lalu penghuni neraka mengerumuninya dan bertanya: Hai Fulan, kanapa kamu disiksa seperti ini, bukankah kamu menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran? Ia jawab: Benar, aku dahulu menyeru kepada kebaikan, tetapi aku tidak melakukannya dan mencegah kemungkaran namun aku tetap menjalankannya.” (HR. Muslim).

Setiap muslim diperintahkan untuk saling memberi nasehat kepada sesama. Allah SWT berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran [3]: 104). Saling memberi nasehat ini dilaksanakan demi wujudnya kontrol sosial dalam kehidupan yang islami.

Untuk bisa menciptakan lingkungan yang islami, penegakan amar ma’ruf nahi munkar mesti didukung oleh integritas pribadi. Menciptakan hal islami tersebut dimulai dari diri sendiri. Jangan sampai mulut manis memberikan nasehat dan mencegah kemungkaran tanpa didukung perbuatan nyata. Sehingga kita terhindar dari perbuatan yang dibenci Allah SWT. Firman Allah SWT, “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS Ash Shaf [61]: 2-3).

Integritas pribadi adalah kesesuaian tingkah laku dengan apa yang diucapkan. Tingkah laku yang telah menjadi diri kita. Bukan sekedar ilmu tanpa amal atau bualan ucapan tanpa tindakan nyata.

Menciptakan integritas pribadi haruslah dimulai dari diri sendiri. Memulai dengan sering melakukan introspeksi (muhasabah) diri serta senantiasa memperbaiki tingkah laku kita. Sebagaimana pesan Umar bin Khatab, “Hisablah (perhitungkanlah) dirimu sebelum kamu dihisab di hari hisab kelak”.

Upaya ini harus dilakukan terus menerus. Terkadang kita lupa dan melakukan kesalahan, namun segeralah kembali dan bertaubat. Sabda Rasulullah SAW., “Setiap anak Adam itu melakukan kesalahan, namun sebaik-baiknya kesalahan adalah bertaubat”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Dengan integritas pribadi, kita akan menjadi manusia yang mampu memberikan manfaat kepada yang lain dan akan tercipta manusia yang benar (ash-shadiqun). Firman Allah SWT, “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadapNya. Itulah keberuntungan yang paling besar.” (QS Al-Maidah [5]: 119). Wallahu a’lam.

2/23/2009

Hidup adalah Komunikasi


Pada prinsipnya komunikasi selalu terjadi. Saat diam, saat bergerak, ketika anda berbicara kepada orang lain dan ketika anda berbicara kepada diri sendiri semua itu adalah komunikasi. Disengaja atau tidak, komunikasi itu akan senantiasa ada. Rasa sakit yang kita rasakan saat terluka adalah bentuk komunikasi juga. Syaraf yang terkena luka mengkomunikasikan kepada otak dan kemudian otak akan menyampaikan rasa sakit itu akhirnya mulut kita akan berkata, aduh sakit........!

Kita tidak bisa menghindari komunikasi. Hidup kita adalah komunikasi.

Komunikasi itu adalah kreasi yang kita ciptakan sendiri. Artinya semua bisa kita kendalikan. Apa yang kita lakukan, secara sadar atau pun tidak adalah suatu komunikasi dan kemudian akan memberikan efek sesuatu.

Kita melotot, orang lain akan marah atau merasa takut. Kita tersenyum, orang lain akan merasa nyaman dan tentram. Kita membentak, orang lain merasa diremehkan dan disakiti. Kita berkata lemah lembut, penuh kasih sayang, orang lain akan merasa simpati dan perhatian. Dan lain sebagainya, semua kreasi komunikasi akan selalu memberikan efek tertentu pada kita.

Karena komunikasi itu sebuah kreasi, maka kita bisa mengendalikannya. Semuanya kita yang memilih. Dan pasti pilihan kita tersebut akan memberikan efek sesuatu. Sehingga kita layak memilih komunikasi yang memberikan efek baik kepada kita.

Seperti sebuah siklus, komunikasi ada dengan pilihan kita maka kita akan mendapatkan hasilnya, terus begitu. Komunikasi kemudian hasil, komunikasi kemudian hasil, komunikasi hasil dan seterusnya.

Dari sini kreasi itu kita yang menciptakan. Kita yang memilih komunikasi itu. Tergantung, kita mau memberikan komunikasi positif maka kita akan menerima hal positif. Kita memberikan komunikasi negatif kita rasakan hasilnya sendiri. 

Kita marah, orang lain akan menjauh dari kita. Kita melotot, orang lain akan takut atau marah pada kita. Kita senyum, orang lain akan tentram dan nyaman dengan kita. Apapun kita yang harus memilih. Tentunya kita harus memilih yang terbaik. 

Firman Allah SWT, "Ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik". (QS. An-Nisa [4]: 8). Dalam ayat selanjutnya, "Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar". (QS. An-Nisa [4]: 9). 

Sebagai pegangan kita dalam berkomunikasi dengan yang lain, bahwa kebahagiaan tertinggi itu adalah ketika melihat orang lain bahagia. Terlebih lagi jika kita menjadi sebab kebahagiaan itu.

Hari itu Selalu Baru

Setiap hari adalah hari baru, ini adalah anugerah Allah. Anugerah ini banyak manusia yang melupakannya. Banyak yang menjalani hari layaknya hari-hari yang biasa dan tiada merasa kalau hari adalah anugerah Allah. Sehingga tiada sikap istimewa dalam menghadapinya.

Layaknya kita mendapat baju baru, kita selalu memberikan perhatian lebih terhadap baju tersebut. Ada alasan yang mendasari kenapa sikap kita tehadap baju baru tersebut berbeda. Alasannya adalah karena kita merasa kalau baju
 ini suatu pemberian, suatu anugerah yang cukup berharga. Kita merasa menjadi orang yang paling beruntung mendapatkan baju baru tersebut.

Analogi diatas memberikan pengertian bahwa begitu berharganya suatu anugerah. Kembali kepada hari baru, sebuah harapan sama seperti sikap kita terhadap sesuatu barang baru, sikap dalam menghdapai hari tentunya lebih dari pada yang lainnya. Karena hari adalah hidup kita. Seperti dalam ungkapan berbahasa arab bahwa waktu itu adalah kehidupan (al waktu huwal hayah). 

Sikap selayaknya menghadapinya adalah meninggikan rasa syukur kita kepada Allah. Menjalani hari dengan penuh kesyukuran memberikan tenaga lain, berbeda dengan mereka yang menjalani hari dengan sikap biasa saja. Pengejewantahan rasa syukur bukan hanya dengan perkataan, tetapi juga dengan tingkah laku dan tentunya di dasari hati yang ikhlas. 

Salah satu implementasi syukur kita terhadap hari adalah dengan menjaga selalu iman kita pada hari yang kita hadapi agar selalu bertambah. Menjaga amal kita agar selalu 
bertambah dan menjaga ilmu kita agar selalu bertambah.

Firman Allah SWT, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim [14]: 7).

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa bersukur terhadap anugerah Allah swt. Amin.

Orang Oportunis



Di dunia ini beragam orang dengan karakter dan sifatnya masing-masing. Saya ingin menekankan mereka orang yang oportunis. Orang yang selalu mencari keuntungan bagi pribadinya dan menomor-duakan kepentingan yang lain, sekali pun itu kepentingan orang banyak. Orang seperti ini sering kali bermuka dua dan menjadi penjilat demi meraih kepentingan dirinya.

Dalam istilah agama Islam, sikap seperti ini tergolong kepada sifat nifak. Rasulullah saw bersabda, "Ciri munafik itu ada tiga, yaitu jika berkata dia berdusta, jika berjanji dia menyalahi dan jika dipercaya dia khianat". (HR. Bukhari)

Mereka yang oportunis sering kali bersikap manis jika berhadapan dengan kepentingan dirinya dan sebaliknya jika tidak ada keuntungan bagi dirinya, dia bersikapn ketus dan lalai. perilaku demikian bisa disebut dengan kedustaan, karena penampakan luarnya tidak sesuai dengan hati terdalamnya. 

Maka wajar Allah SWT memerintahkan kepada Nabi saw untuk tidak menerima pendapat orang munafiq. Firman Allah SWT, "Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik". (Al-Ahzab [33]: 1).

Sebaliknya Allah SWT memerintahkan untuk berpegang kepada wahyu dan senantiasa bertakwa serta bertawakal kepada-Nya. Firman Allah SWT dalam ayat selanjutnya, "Dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhan kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara". (Al-Ahzab [33]: 2-3).

Dari ayat ini kita bisa memahami, bahwa pentingnya kita mengetahui mereka yang bersikap oportunis. Kewaspadaan kita terhadap mereka yang bersikap mencari keuntungan pribadi menjadikan kita lebih hati-hati dalam menerima pendapat mereka. Justru kita harus lebih mengutamakan untuk berpegang kepada prinsip dasar dan kepentingan khalayak banyak. Setelah kita berusaha melaksanakan sesuai prinsip dan keyakinan kita dalam kebaikan khalayak banyak, selanjutnya kita bertawakal kepada Allah SWT.

Sikap semestinya adalah kita harus senantiasa teliti dan selalu cek dan ricek terhadap sikap dan perkataan mereka yang oportunis. Firman Allah SWT, "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu". (Al-Hujurat [49]: 6).

Wallahu a'lam.