Integritas Pribadi
“Pada hari kiamat nanti seorang lelaki dilemparkan ke dalam neraka, lalu seluruh isi perutnya keluar, kemudian ia berputar membawa isi perutnya itu seperti seekor keledai memutari penggilingan. Lalu penghuni neraka mengerumuninya dan bertanya: Hai Fulan, kanapa kamu disiksa seperti ini, bukankah kamu menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran? Ia jawab: Benar, aku dahulu menyeru kepada kebaikan, tetapi aku tidak melakukannya dan mencegah kemungkaran namun aku tetap menjalankannya.” (HR. Muslim).
Setiap muslim diperintahkan untuk saling memberi nasehat kepada sesama. Allah SWT berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran [3]: 104). Saling memberi nasehat ini dilaksanakan demi wujudnya kontrol sosial dalam kehidupan yang islami.
Integritas pribadi adalah kesesuaian tingkah laku dengan apa yang diucapkan. Tingkah laku yang telah menjadi diri kita. Bukan sekedar ilmu tanpa amal atau bualan ucapan tanpa tindakan nyata.
Menciptakan integritas pribadi haruslah dimulai dari diri sendiri. Memulai dengan sering melakukan introspeksi (muhasabah) diri serta senantiasa memperbaiki tingkah laku kita. Sebagaimana pesan Umar bin Khatab, “Hisablah (perhitungkanlah) dirimu sebelum kamu dihisab di hari hisab kelak”.
Upaya ini harus dilakukan terus menerus. Terkadang kita lupa dan melakukan kesalahan, namun segeralah kembali dan bertaubat. Sabda Rasulullah SAW., “Setiap anak Adam itu melakukan kesalahan, namun sebaik-baiknya kesalahan adalah bertaubat”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Dengan integritas pribadi, kita akan menjadi manusia yang mampu memberikan manfaat kepada yang lain dan akan tercipta manusia yang benar (ash-shadiqun). Firman Allah SWT, “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadapNya. Itulah keberuntungan yang paling besar.” (QS Al-Maidah [5]: 119). Wallahu a’lam.

